Showing posts with label Makam. Show all posts
Showing posts with label Makam. Show all posts
Wednesday, 22 June 2016
MAKAM W.R. SUPRATMAN
Salah satu makam pahlawan yang ada di Surabaya adalah Makam W.R. Supratman (W.R Soepratman). Makam ini tidak terletak di kompleks pemakaman, tetapi hanya sendirian, seperti halnya Makam Dr. Sutomo. Tepatnya, alamat Makam W.R. Supratman ini adalah di Jalan Kenjeran, berdekatan dengan suatu kompleks permakaman umum. Meskipun terdapat tulisan Makam W.R Supratman di bagian depan makam, tapi jika tak jeli kalian mungkin akan kesulitan menemukan lokasi makam ini. Ada baiknya setelah memasuki kawasan Jalan Kenjeran, kalian bertanya ke warga sekitar.
Monday, 11 August 2014
GEDUNG NASIONAL INDONESIA (GNI)
![]() |
| Gedung Nasional Indonesia |
Salah satu bangunan bersejarah yang ada di Surabaya adalah Gedung Nasional Indonesia, yang berlokasi di Jalan Bubutan. Gedung ini dibangun atas inisiatif Dr. Soetomo sepulangnya dia dari menyelesaikan studi di Amsterdam dan menjadi saksi dari pergerakan pemuda-pemuda Indonesia di sana.
Pada tanggal 11 Juli 1924, Dr. Soetomo mendirikan sebuah perkumpulan bernama Indonesische Studiclub (IS) berkat pengalaman organisasinya di Belanda. Pada masa itu, rapat-rapat umum hanya dilaksanakan di bisokop dan sifatnya tidak teratur. Karena ketiadaan tempat rapat inilah, Dr. Soetomo berinisiatif untuk mendirikan Gedung Nasional Indonesia.
Friday, 25 April 2014
MASJID SUNAN AMPEL
![]() |
| Masjid Sunan Ampel |
Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel terkenal dengan Masjid Sunan Ampel-nya. Masjid ini dibangun oleh Raden Rahmatullah pada tahun 1421 di kawasan Ampel Denta, dan masih termasuk di dalam wilayah kerajaan Majapahit. Salah satu masjid tertua di Indonesia ini dibangun dengan arsitektur Jawa Kuno yang dipadu dengan nuansa Arab yang kental.
Baca juga:
KAWASAN WISATA RELIGI SUNAN AMPEL
Sampai tahun 1905, Masjid Ampel ini menjadi masjid terbesar kedua di Surabaya. Pada jaman dulu, masjid ini digunakan sebagai tempat pertemuan para ulama dan wali untuk membahas mengenai penyebaran agama Islam di pulau Jawa.
Untuk melestarikan dan melindungi peninggalan sejarah, Masjid Ampel Surabaya ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya, dan dibangun sebagai kawasan wisata religi. Masjid tersebut terdiri dari 16 tiang utama yang terbuat dari kayu jati, yang memiliki panjang 17 meter dan diameter 60 cm. Angka 17 ini menjadi simbol 17 rakaat solat dalam sehari.
Monday, 21 April 2014
TAMAN BUNGKUL
![]() |
| Bagian depan Taman Bungkul |
Taman Bungkul Surabaya merupakan salah satu ikon kota Surabaya. Taman ini direvitalisasi dan diresmikan pada 21 Maret 2007. Taman ini berlokasi di Jalan Darmo dan merupakan taman yang paling banyak dikunjungi di Surabaya, khususnya pada akhir pekan. Menurut sejarah, taman ini berlokasi di tempat yang dulunya merupakan sebuah desa bernama Desa Bungkul.
Taman Bungkul berdiri di lahan seluas 900 meter persegi dan merupakan ruang terbuka hijau yang dilindungi oleh pemerintah. Sejak direvitalisasi, taman ini telah semakin diperlengkap dengan berbagai macam fasilitas. Penjual makanan yang berderet di sisi timur kompleks taman tersebut juga menjadi bukti bahwa taman ini juga menjadi sumber penghidupan bagi beberapa masyarakat kelas menengah ke bawah. Warung-warung yang terletak di belakang taman menawarkan berbagai macam makanan khas Jawa Timur seperti Rawon dan Soto.
Friday, 21 March 2014
KAWASAN WISATA RELIGI SUNAN AMPEL
Jika ingin merasakan suasana yang sedikit berbeda dengan suasana Surabaya pada umumnya, Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel merupakan salah satu alternatif yang bisa dipilih. Ketika sampai di kawasan ini, yang pertama kali terasa adalah suasana khas Timur Tengah yang begitu kental. Kawasan Ampel ini merupakan pertemuan berbagai etnis, yang didominasi oleh etnis keturunan Arab. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Terletak di bagian utara kota Surabaya, daerah ini juga dikenal dengan istilah Kampung Arab. Komunitas Arab telah menghuni kawasan ini sejak berabad-abad silam, yaitu ketika para musafir yang berasal dari Hadramaut datang ke Pulau Jawa. Kawasan inilah yang menjadi saksi awal mula perkembangan Islam di Nusantara. Ampel ini dulunya dihuni oleh banyak sekali etnis. Namun, pada masa kolonialisme Belanda, masyarakat keturunan Arab dipaksa untuk bermukim di sekeliling Masjid Sunan Ampel agar ajaran agama mereka tidak mengkontaminasi ajaran agama dari Belanda. Oleh Belanda, kawasan ini disebut Arabsche Kamp atau Kampung Arab dan untuk mengawasi daerah tersebut, ditunjuklah satu orang yang bertindak sebagai Kapten Arab. Ketika penjajahan berakhir, masyarakat keturunan Arab yang sudah terlanjur kerasan tinggal di daerah tersebut memutuskan untuk tetap mendiami daerah tersebut. Inilah alasannya kenapa budaya Timur Tengah masih terasa sangat kental di daerah ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)




